4/4/12

Calistung Jadikan Anak Frustasi ??

Tes membaca, menulis dan berhitung, calistung sebagai prasyarat untuk masuk sekolah dasar dinilai sangat keliru. Sebab tes  calistung ini belum layak diterapkan kepada anak-anak di usia dini. Namun di berbagai daerah, banyak ditemukan sekolah-sekolah yang menerapkan tes calistung dalam menjaring calon siswa barunya.

Alasannya tes ini mempermudah dalam proses seleksi siswa baru sekolah dasar, terutama sekolah-sekolah unggulan. Mengingat pada saat masa pendaftaran siswa baru, sekolah- sekolah unggulan selalu kebanjiran dengan  jumlah pendaftar. Sehingga dengan terpaksa tes  calistung digunakan sebagai syarat diterimanya anak masuk sekolah dasar unggulan.

Dibalik tujuan mempermudah proses seleksi masuk, baik orang tua dan guru telah melupakan hak-hak anak. Anak seolah dipaksakan untuk memenuhi keinginan para orang tua. Sehingga orang tua dan guru melupakan dunia anak usia dini.  Pengamat Anak Johana Ernawaty  mengatakan, dunia anak adalah dunia bermain. Dunia dimana anak belajar dengan cara bermain.  Namun saat ini sudah banyak sekolah taman kanak-kanak yang menerapkan pelajaran yang tidak sesuai dengan usia anak.

“Banyak sekolah taman kanak-kanak yang sudah menerapkan PR banyak sekali. Anak-anak bisa menerima. Tetapi terkadang kita lupa anak-anak juga butuh waktu bermain. Apalagi pada usia taman kanak-kanak.  Di usia ini anak belum mampu untuk berfikir keras seperti membaca, menulis, dan berhitung,” tutur Johana.

Tuntutan orang tua terkadang melupakan hak-hak anak untuk bermain di usianya. Mereka seakan tidak menyadari dampak  psikologis anak ketika anak tersebut dihadapkan oleh sebuah kegagalan. Johana menjelaskan, ketika anak usia dini itu gagal dalam ujian kompetensi untuk memasuki sekolah dasar, jiwa anak akan terguncang. Si anak itu akan merasa minder dengan kemampuannya. Padahal anak di usia kurang dari tujuh tahun itu belum dituntut untuk bisa calistung.

“Ada anak yang tidak mampu menangis karena tidak mampu dan takut salah. Kita harus meningkatkan kepercayaan kepada anak-anak. Dengan adanya kasus itu  anak merasa minder”ujar Johana.

Dunia anak adalah dunia bermain. Maka berikanlah anak diusianya untuk bermain seluas-luasnya. Jika anak diberikan kepercayaan untuk melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya, maka anak tersebut akan menimbulkan imaginasi dan kreatifitas.

Lanjut Johana pertumbuhan anak itu bertahap, namun terkadang ada orang tua yang begitu khawatir ketika anak di usia taman kanak-kanak yang belum bisa calistung. Padahal masih sangat wajar ketika anak di usia taman kanak-kanak belum memiliki kemampuan calistung. Karena anak di usia itu belum dituntut untuk memiliki kemampuan dalam

“Saya ingin anak saya bisa baca, nulis dan berhituing pada TK B.  Padahal gurunya sendiri tidak mau. Tetapi orang tua yang menuntut seperti itu. Karena ingin masuk sekolah favorit. Orang tua harus bisa menerima kemampuan anak sebenarnya.

Terkait dengan adanya test calistung, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau agar sekolah-sekolah tidak menggunakan Test membaca, Menulis dan Menghitung untuk menerima siswa baru sekolah dasar kelas 1SD.  Juru Bicara Kemendiknas Ibnu Hamad mengatakan,  pengenalan huruf pada saat sekolah taman kanak-kanak memang perlu namun anak-anak tidak diwajibkan untuk menguasainya. Melainkan hanya sebatas perkenalan saja.

“TK mengenalkan huruf. Hanya saja cara mengenalkannya dengan  bermain dan bergembira”.
Kalau pun calistung itu menjadi sebuah syarat untuk anak masuk dalam sekolah tertentu, Ibnu  Hamad sangat menyangkan akan hal itu. Sebab tidak ada yang mengharuskan bisa baca, menulis, dan menghitung untuk masuk SD.

Ibnu menambahkan, apabila ada sekolah yang masih menerapkan test calistung dalam penjaringan siswa barunya, maka diharapkan segera melaporkan kepada Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

No comments:

Post a Comment