Tes membaca, menulis dan berhitung,
calistung sebagai prasyarat untuk masuk sekolah dasar dinilai sangat
keliru. Sebab tes calistung ini belum layak diterapkan kepada anak-anak
di usia dini. Namun di berbagai daerah, banyak ditemukan
sekolah-sekolah yang menerapkan tes calistung dalam menjaring calon
siswa barunya.
Alasannya tes ini mempermudah dalam
proses seleksi siswa baru sekolah dasar, terutama sekolah-sekolah
unggulan. Mengingat pada saat masa pendaftaran siswa baru, sekolah-
sekolah unggulan selalu kebanjiran dengan jumlah pendaftar. Sehingga
dengan terpaksa tes calistung digunakan sebagai syarat diterimanya anak
masuk sekolah dasar unggulan.
Dibalik tujuan mempermudah proses
seleksi masuk, baik orang tua dan guru telah melupakan hak-hak anak.
Anak seolah dipaksakan untuk memenuhi keinginan para orang tua. Sehingga
orang tua dan guru melupakan dunia anak usia dini. Pengamat Anak
Johana Ernawaty mengatakan, dunia anak adalah dunia bermain. Dunia
dimana anak belajar dengan cara bermain. Namun saat ini sudah banyak
sekolah taman kanak-kanak yang menerapkan pelajaran yang tidak sesuai
dengan usia anak.
“Banyak sekolah taman kanak-kanak yang
sudah menerapkan PR banyak sekali. Anak-anak bisa menerima. Tetapi
terkadang kita lupa anak-anak juga butuh waktu bermain. Apalagi pada
usia taman kanak-kanak. Di usia ini anak belum mampu untuk berfikir
keras seperti membaca, menulis, dan berhitung,” tutur Johana.
Tuntutan orang tua terkadang melupakan
hak-hak anak untuk bermain di usianya. Mereka seakan tidak menyadari
dampak psikologis anak ketika anak tersebut dihadapkan oleh sebuah
kegagalan. Johana menjelaskan, ketika anak usia dini itu gagal dalam
ujian kompetensi untuk memasuki sekolah dasar, jiwa anak akan
terguncang. Si anak itu akan merasa minder dengan kemampuannya. Padahal
anak di usia kurang dari tujuh tahun itu belum dituntut untuk bisa
calistung.
“Ada anak yang tidak mampu menangis
karena tidak mampu dan takut salah. Kita harus meningkatkan kepercayaan
kepada anak-anak. Dengan adanya kasus itu anak merasa minder”ujar
Johana.
Dunia anak adalah dunia bermain. Maka
berikanlah anak diusianya untuk bermain seluas-luasnya. Jika anak
diberikan kepercayaan untuk melakukan apa saja sesuai dengan
keinginannya, maka anak tersebut akan menimbulkan imaginasi dan
kreatifitas.
Lanjut Johana pertumbuhan anak itu
bertahap, namun terkadang ada orang tua yang begitu khawatir ketika anak
di usia taman kanak-kanak yang belum bisa calistung. Padahal masih
sangat wajar ketika anak di usia taman kanak-kanak belum memiliki
kemampuan calistung. Karena anak di usia itu belum dituntut untuk
memiliki kemampuan dalam
“Saya ingin anak saya bisa baca, nulis
dan berhituing pada TK B. Padahal gurunya sendiri tidak mau. Tetapi
orang tua yang menuntut seperti itu. Karena ingin masuk sekolah favorit.
Orang tua harus bisa menerima kemampuan anak sebenarnya.
Terkait dengan adanya test calistung,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau agar sekolah-sekolah
tidak menggunakan Test membaca, Menulis dan Menghitung untuk menerima
siswa baru sekolah dasar kelas 1SD. Juru Bicara Kemendiknas Ibnu Hamad
mengatakan, pengenalan huruf pada saat sekolah taman kanak-kanak memang
perlu namun anak-anak tidak diwajibkan untuk menguasainya. Melainkan
hanya sebatas perkenalan saja.
“TK mengenalkan huruf. Hanya saja cara mengenalkannya dengan bermain dan bergembira”.
Kalau pun calistung itu menjadi sebuah
syarat untuk anak masuk dalam sekolah tertentu, Ibnu Hamad sangat
menyangkan akan hal itu. Sebab tidak ada yang mengharuskan bisa baca,
menulis, dan menghitung untuk masuk SD.
Ibnu menambahkan, apabila ada sekolah
yang masih menerapkan test calistung dalam penjaringan siswa barunya,
maka diharapkan segera melaporkan kepada Kementerian Pendidikan dan
kebudayaan.

No comments:
Post a Comment